Yang Punya

Foto saya
Denpasar, Bali, Indonesia
terbang naik elang, diserempet naga. selamat datang, selamat membaca :)

Jumat, 01 April 2011

Cerita

Jika diingat-ingat, ini semua sangat lucu. Saat aku termenung dikesendirian, terkadang aku mengingat suatu sosok. Sosok lelaki yang bisa mengisi hari-hariku hingga saat ini, detik ini. Bahkan senyumanpun ikut mengiringi waktu-waktu aku mengenang awal kali kita dipertemukan dan hari-hari indah dengannya.

Awal aku mengetahuinya, bukan tanpa sebab. Tetapi, karena aku bersekolah di SMA yang sekarang aku duduki. Teman-temankulah yang membuatku kerap memperhatikan sosoknya. Sebenarnya bukan sosok yang kukagumi sejak awal aku melihatnya, malah yang kulihat dia adalah sosok yang dingin, tidak ramah, sombong, angkuh, dan tidak ramah. Itu bukanlah yang aku suka dari sifat seseorang. Apa lagi laki-laki seperti dia. Yang membuatku merasakan cinta monyet pertamaku. Entah apa yang mereka perbincangkan di depanku, selalu saja ada yang menyebutkan namanya. Utamanya bagi para teman-teman perempuanku. Mungkin dia memang sosok yang dibanggakan, tapi sayangnya saat itu aku merasa biasa saja, bahkan aku tidak bisa mengingat wajahnya, aku hanya tau namanya karena rutin aku dengar dengan pujian-pujian untuknya.

Suatu hari, di sekolahku diadakan orasi pemilihan ketua OSIS, entah mengapa, teman-teman dengan nyaring meneriakan namanya, sedangkan aku? Aku tetap tidak pernah tau mana orang yang bernama seperti yang mereka sebutkan itu. Aku memilih kakak kelasku yang bernama Wisnu, dan aku mengabaikan dua calon ketua OSIS lainnya. Aku mengabaikan salah satu calon yang menjadi idaman para wanita disekitarku itu. Jujur saja, aku tidak tau nama dari dua calon ketua OSIS itu, yang ku tau hanya Kak Wisnu Nayaka. Jadi, aku pilih saja dia.

Keesokan harinya, kembali terdengar suara-suara nyaring yang menyebutkan nama lengkapnya. Ternyata salah satu temanku telah menemukan akun Facebook dari kakak kelas yang mereka idam-idamkan itu. Satu persatu teman-temanku menambahkan dia sebagai teman, tetapi setelah lama, permintaan teman mereka tetap diabaikan oleh kakak kelas idaman teman-temanku itu. Setelah sekian lama, aku pun ikut menambahkan dia sebagai temanku di facebook, tapi anehnya dia langsung menerima permintaan pertemananku tanpa aku harus menunggu lama. Lalu teman-temanku? Tetap diabaikan.

Sekolahku memiliki suatu organisasi yang sangat dipandang di mata guru. Divisi Trisma. Dan akupun mengikuti organisasi itu atas dasar aku memang hobi berorganisasi. Saat itu, pelantikan diadakan pagi hari. Aku melihat sosoknya dari kejauhan duduk dengan gayanya yang kuanggap sombong di tangga menuju ke lantai atas dan dikerumuni teman-teman perempuanku yang berjoget-joget dan bernyanyi lagu dangdut agar mendapatkan tanda tangan dari wakil 1 OSIS itu. Ya, kakak kelas idaman teman-temanku. Dalam hati aku berkata, “hahaha, mereka pasti menggunakan kesempatan ini agar bisa berada di dekat kakak itu.”. aku terdiam sesaat sambil melihat tingkah aneh mereka tetapi mata kakak itu menuju mataku, dan aku beranjak pergi untuk mencari sasaran OSIS lain, bukan kakak itu tepatnya. Aku benci tingkah sombongnya.

Dan ada lagi tugas dari pengurus ekstrakulikuler jurnalistik di sekolahku, yaitu wawancara OSIS angkatan 33. Anehnya lagi, aku mendapatkan bagian untuk mewawancarai kakak kelas idaman teman-temanku itu. Hari pertama, aku melihat dari kelas atas dia berjalan menuju arah kelasnya, ato berlari dengan cepat menuruni tangga dan dengan sopan aku bertanya “Permisi kak, saya mendapatkan tugas dari kakak pengurus ekstra untuk mewawancarai kakak, apa kakak...” belum selesai berbicara, dia sudah memotong pembicaraanku dengan angkuhnya “cari OSIS yang lain saja!” dan dia pergi. Sungguh sosok yang dingin, yang sangat susah memberikan senyuman. Dan aku menangis karena aku adalah orang yang paling tidak bisa jika ada yang tidak merespon pembicaraanku.

Deadline tinggal beberapa hari lagi, tetapi ia tetap saja menolak untuk aku wawancarai. Anehnya ia selalu menampakkan dirinya di depanku, seakan-akan berharap agar aku memohon lagi dengannya dan dia akan menolak untuk aku wawancarai. Tidak hanya di sekolah, di situs jejaring sosial Facebook pun ia kerap mengirimkan aku Chat atau obrolan yang menyangkut pautkan tentang Divisi Trisma, hingga akhirnya aku berhasil dan dia bersedia untuk di wawancarai, tetapi dia memberikan syarat untukku, yaitu aku harus menunggunya hingga ia selesai mendapatkan suatu akselerasi mata pelajaran. Dengan sangat terpaksa aku merelakan seleksi Debat Bahasa Inggris untuk lomba yang sudah aku lewati satu putaran. Aku menunggunya di depan Lab.Kimia. dengan perut sakit menahan lapar dan maag. Aku lapar, tetapi tidak berani meninggalkan tempat itu agar kakak idaman teman-temanku itu tidak kabur seperti saat-saat sebelumnya. Kurang lebih sekitar pukul 5 sore, dia keluar dari laboratoruim dan aku dengan cepat berlari ke arahnya untuk mewawancarainya. Sungguh dia orang yang aku benci. Tetapi, setelah mewawancarai wakil 1 OSIS itu, aku merasa semakin penasaran dengan kepribadiannya, dengan latar belakangnya, bahkan aku sangat bersikeras untuk melihat senyumnya yang sangat sulit ia pancarkan.

Ada lagi hal lucu saat aku sedang bimbang memikirkan apa maksud dari perasaan penasaran yang menjadi-jadi di diriku ini. Namaku dipanggil oleh kakak-kakak OSISku, beserta beberapa orang lainnya. Ternyata kami dipercaya untuk menjadi panitia kegiatan Bulan Bahasa di Sekolaku. Mengapa lucu? Karena dari sinilah semuanya terungkap. Mungkin hanya kebetulan, atau mungkin ada sesuatu dari semua ini? Lelaki itulah yang sekarang menjadi koordinator OSIS dari acara yang aku pegang, yaitu pameran buku. Dengan begitu otomatis aku akan sering berkomunikasi dengan dia. “apa-apaan ini?” perasaanku tidak biasa, meletup-letup dan bahkan aku ingin tersenyum. Tetapi, mengapa dia yang menjadi koordinator dari acaraku?

Aku jalani saja, hingga semua tidak bersemi di Facebook saja, tetapi juga di SMS. Semua kita jalani dengan diam-diam tanpa sepengetahuan orang-orang di sekolah. Bahkan aku merasa dekat dengannya. Aku penasaran, sangat penasaran mengapa ia sangat jarang tersenyum di sekolah. Dan suatu hari ia menyuruhku mencarinya di perpustakaan sekolahku. Katanya ia ingin memberikan senyuman termanisnya untukku. “Ada apa ini Tuhan?”. Di sanalah semuanya berawal. Kedekatan kami bukan sebatas kakak dan adik lagi. Tetapi ia berpesan, “jangan pernah kamu menceritakan semua ini kepada siapapun. Semoga kamu tidak keberatan menjalani hubungan ini dengan kakak” katanya sambil tersenyum lepas. Sangat manis. Memang ini dilema, aku takut teman-temanku merasa kesal denganku. Karena awalnya aku memang membenci dia, tetapi aku merasa munafik, aku terpesona oleh sosoknya.

Lambat laun kedekatan kami sudah menjadi rahasia umum. Dari banyak yang tidak percaya, banyak yang menghujatku, dan akhirnya mereka sudah biasa. Walaupun setiap hari kami bertemu di sekolah, tetapi sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah aku berbicara dan melihat matanya. Aku tidak berani. Bagaimanapun, ini sekolah. Dan sudah tradisi OSIS tidak boleh memberika senyuman kepada adik kelasnya. Setelah aku terbiasa, ada yang aneh dari dirinya, dia kerap memberikan senyumannya untukku. Tidak peduli di depan umum. Dia mengaku, semakin lama, rasanya semakin susah untuk tidak memberikan senyumnya kepadaku, bukannya semakin terbiasa.

Selama bersamanya aku merasa semakin semangat. Benar kata ibukku, ia mengijinkanku dekat dengan lelaki, karena memang wajar. Asalakan aku bisa menjadikannya motivatorku. Bukan semakin merusak. Aku banyak mengetahui hal-hal baru darinya. Bahkan aku sempat merasa minder karena dia begitu berprestasi. Ibukku pun mengetahui dia, karena dia kerap mengantarkanku dan menontonku di beberapa lomba yang aku ikuti.

Satu lagi, saat PSR (Pekan Seni Remaja) bukan hanya murid-murid SMAN 3 Denpasar yang mengetahui kedekatan kita, tetapi jugak para guru. Memang tidak semua guru. Awalnya karena aku mendampinginya saat dia mengikuti salah satu lomba di ajang PSR tersebut. Dan kedua karena saat aku yang mengikuti lomba, dia lah yang mendampingiku. Apalagi saat kita menanti pengumuman juara umum untuk Pekan Seni Remaja tersebut. Saat menerima kabar bahwa sekolah kita lah yang menjadi juara umum PSR 2011, dengan semangatnya dia memelukku. Tidak ada kecanggungan lagi untuk saling menyapa dan tersenyum, tetapi aku tetap bersikap seperti biasa ketika aku bertemu dengannya di sekolah. Dan saat ini aku tau apa kelebihan dan kekurangannya. Semoga Wawan selalu bisa menjadi motivatorku.

Kamis, 24 Maret 2011

Kenyataan Semu


Ya, beginilah duniaku

Dikenyataan ini duniaku semu

Aku merasakan senyumannya

Tetapi tidak melihatnya

Aku melihat peluknya

Tetapi tidak merasakannya

Aku mencium sapaannya

Tetapi tidak pernah mendengar

Ya, inilah duniaku

Dunia yang penuh harapan

Harapan semu di sebuah kenyataan

Tetapi sayang semua semu

Harapanku nyata dibalik lamunan

Disini aku hanya selir hatimu..

Pencuri Yang Tidak Berharap Kaya

Aku adalah I Kadek Suksma Widhi Andara. Kata ibuku, nama itu diberikan padaku dengan artian I adalah anak laki-laki di Bali, Kadek adalah anak kedua di Bali, Suksma artinya terimakasih, Widhi artinya Tuhan, dan Andara adalah nama ayahku. Dalam artian luas berarti, ibuku berterimakasih kepada Tuhan karena telah menganugerahi seoang anak laki-laki. Ya, itulah aku.

Aku ingin menceritakan sedikit tentang seorang penjaga sekolahku yang telah mengajariku banyak hal. Kesabaran, ketenangan, ketabahan, tidak pamrih, hingga aku dapatkan keindahan dan merasakan pengorbanan. Saat ini usiaku 23 tahun. Dan Pak Made pun telah pensiun, tapi aku tetap sering mengunjungi Pak Made dan keluarganya, karena aku juga sudah menganggap mereka keluarga.

Pak Made, penjaga sekolahku. Berbadan pendek, sederhana, ramah, dan baik hati. 22 tahun sudah dia mengabdi sebagai penjaga sekolah sekaligus penjaga kebersihan sekolahku. Dia adalah idolaku, yang dengan senang hati menjaga sekolahku tanpa pamrih. Walaupun memang mencari gaji untuk menghidupi keluarga, tapi kerap kali ia mengerjakan pekerjaan yang bukan tugasnya. Kata Pak Made, sekolah ini sudah seperti rumahnya sendiri. Nyaman jika bersih dan tidak nyaman jika kotor. Karena beliau menyukai sekolah yang nyaman, maka dengan senang hati ia membersihkan sekolahku.

Istri Pak Made bernama Ni Luh Sukaesih, namun sering ku panggil Men Asih. Men Asih bekerja sebagai buruh tani di pertanian milik saudagar dekat rumahnya. Penghasilannya memang tidak tetap, tetapi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia memiliki 2 orang anak yang membantunya. Sebenarnya anak Pak Made dan Men Asih ada 3. Tetapi, anak keduanya sudah meninggal dunia karena sakit. Anak pertamanya seumuran denganku, tetapi tidak melanjutkan sekolah sejak duduk di bangku SMP, dan anak terakhirnya sekarang bersekolah di SMA negeri karena beasiswa gaskin (keluarga miskin). Anak pertama mereka bekerja sebagai tukang cuci motor di salah satu bengkel dengan bayaran yang lumayan banyak.

Hal yang paling kuingat adalah saat aku duduk di bangku SMA, saat aku sudah akan lulus dari sekolahku. Pak Made jarang terlihat di sekolah, dan jika tidak begitu, ia datang sekitar pukul 9 pagi. Biasanya pukul 5 Pak Made sudah bersih-bersih di halaman sekolahku dan kerap memberi sapaan senyuman kepada siswa yang baru datang. Aku yang sering bercengkrama dengan Pak Made tentu merasa curiga karena tidak biasanya Pak Made mengurung diri di depanku. Bahkan sampai masalah keluarganya saja Pak Made selalu cerita kepadaku. Tetapi semenjak Pak Made jarang pergi ke sekolah, aku mulai jarang berbincang dengannya. Pikiranku saat itu sangat pendek. Hampir saja aku mengajak teman-temanku untuk berdemo karena kukira Pak Made dipecat. Untung saja aku sempat mampir ke rumahnya dan anaknya yang pertama bilang bahwa Pak Made tidak dipecat. Tetapi aku tidak mendapatkan informasi apa pun tentang penyebab Pak Made jarang datang ke sekolah. Pak Made terlihat sehat dan tetap memancarkan senyum hangatnya.

Suatu hari, saat aku terlambat pulang karena sedang membersihkan sekre KSPAN bersama adik-adik kelasku, aku melihat Pak Made kebingungan dan seperti berpikir keras. Ingin ku menyapa Pak Made seperti biasanya, namun entah mengapa sku canggung dan curiga dengan gerak-gerik Pak Made. Beliau berdiri di depan Ruang Guru dan masuk. Aku kira dia akan membersihkan ruangan itu, tapi untuk apa Pak Made melihat-lihat keadaan sekitar seperti kebingungan dan membawa linggis? Apa Pak Made kehilangan sesuatu? Dan aku mengikuti Pak Made. Kuintip gerak-gerik Pak Made yang membuka laci meja guru-guru dan Pak Made mengambil Bungkusan coklat. Seperti uang. Pak Made mencuri? Untuk apa?

Keesokan harinya OSIS dan para guru menyebar ke kelas-kelas. Entah untuk apa. Dan Pak Budayasa menjelaskan ternyata sekolah telah kehilangan uang sebesar dua puluh dua juta rupiah. Uang untuk study tour guru-guru setelah kelulusan. Dibenakku ini apa ini ulah Pak Made? Tapi untuk apa Pak Made melakukan ini semua? Ia yang mengajariku banyak hal tentang kebaikan, tapi mengapa ia yang mencuri uang sekolah? Dan ternyata memang benar, uang itu adalah yang dicuri Pak Made. Uang yang berada di Laci meja Bu Siti, panitia tour para guru. Aku sangat bingung. Apa yang harus aku lakukan? Aku mengetahui semuanya, tetapi tidak ada bukti yang pasti. Tetapi, aku yakin seorang Pak Made tidak akan melakukan kejahatan tanpa alasan yang jelas.

Aku datang ke rumahnya, dan bertanya banyak kepada anak pertama Pak Made, tapi entah mengapa Putu selalu menjawab pertanyaanku dengan dingin. Hingga akhirnya aku ceritakan bahwa Pak Made telah mengambil uang sekolah. Putu tidak percaya, dan gadis cantik itu mengusirku. Saat aku berada di luar rumah Pak Made, aku bertanya kepada tetangga, ternyata anak kedua Pak Made sedang mengalami Kecelakaan saat berjalan di tengah jalan dalam keadaan mabuk dan memerlukan bantuan donor darah. Bukan hanya itu, anak Pak Made telah merusak toko Grosir milik Ko Handi yang berada di seberang pasar dan kerugiannya cukup besar. Semua itu harus ditanggung Pak Made.

Dan kini aku mengetahui apa penyebab Pak Made mencuri. Aku mengunjunginya di rumah sakit, dan ia menceritakan semuanya kepadaku. Ia memohon agar tidak melaporkan semua ini, tetapi aku tidak bisa. Aku menghimbai Pak Made untuk menceritakan semua ini kepada kepala sekolah sebelum ditindak lanjuti ke polisi. Dan Pak Made bersedia, karena dulu Pak Made pernah menasehatiku bahwa kebaikan akan selalu benar sekalipun berkedok kejahatan.

Setelah Pak Made dan aku datang ke ruang kepala sekolah untuk menceritakan semua kejadian, Pak Made terlihat lega. Ia berjanji akan mengembalikan uang itu, tetapi pihak sekolah memberikan kemudahan karena pengabdian Pak Made. Pak Made bercerita, ia mencuri, tetapi sama sekali bukan untuk meraih sebuah kekayaan. Ini semata-mata untuk anaknya. Pak made tidak pernah berharap kaya akan harta. Dia hanya berharap kaya akan kesejahteraan di keluarga. Dan entah dari mana, para murid yang tidak mengetahui apa maksud dan tujuan Pak Made mencuri uang itu bermain hakin sendiri, saat Pak Made berada di Pos Satpam, ia dicibir dan bahkan ada yang melemparinya Batu. Murid-murid bermain hakin sendiri. Sepulang dari sekolah, aku menerima kabar bahwa anak Pak Made tidak bisa diselamatkan karena gagar otak. Tetapi, Pak Made tidak pernah memancarkan wajah sedih dan galaunya. Ia tetap tesenyum menghadapi semua masalah ini. Masalah yang datang bertubi-tubi.

Disinilah aku dapat melihat kebijaksaan dari Pak Made, orang yang sederhana, tetapi sangat mengahargai arti kehidupan. Rela mendapatkan hukuman hanya demi keluarganya. Ya, keluarga tercintanya. Pernah aku berpikir, mengapa Pak Made tidak menjadi guru BK saja? Ia menjawab, itu cita-cita saya Widhi, tetapi apa boleh buat, orang tua saya tidak mampu menyekolahkan saya hingga ke perguruan tinggi. Dan saya akan berusaha membuat anak saya berhasil menjadi apa yang ia inginkan. Saya ingin anak saya bisa menjadi orang yang sukses tanpa kata kemiskinan yang menjadi kendala. Karena miskin materi bukan awal dari kegagalan.

Sama-Sama Wanita


Pintu perpustakaan tertutup rapat-rapat, jendelanya pun tertutup oleh rak rak buku yang tinggi. “Pintu perpustakaan itu selalu tertutup karena ruangan itu ber-AC” kata Rani kepada Gladys. Saat itu Rani bagaikan seorang guide yang mengajak Gladys berkeliling di sekolahnya. Gladys adalah teman SD Rani yang baru saja berpindah ke SMA yang sama dengan Rani. “Itu disebelah utara adalah kawasan milik kakak kelas XII, kita sebagai kelas XI sih masih segan buat lewat-lewat sekitar sana.” Tunjuk Rani dari seberang lapangan upacara menuju arah utara, sedangkan Gladys hanya mengangguk heran karena di sekolah lamanya tidak mengenal kata senioritas dan junioritas.
Gladys tertarik dengan perpustakaan sekolah barunya hingga setiap ada waktu ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke perpustakaan itu.
“halo nak, saya tumben melihat kamu di sini.” Sapa seorang yang masih tergolong muda, berbadan tinggi semampai, berambut lurus hitam pekat yang diurai. buk Ratna, guru honorer di sekolahnya.
“saya baru kemarin pindah ke sini, Bu. Nama saya Gladys, pindahan dari kota Qn.”
“wah, jauh sekali. Saya bu Ratna, guru matematika honorer di sini. Kamu kelas apa? ”
“kelas XI IPA4, ibu mengajar di sana?”
“iya, nanti saat pelajaran ketiga ibu mengajar di kelasmu. Sampai ketemu ya, Gladys.” Senyum Bu Ratna kepada Gladys sangat manis, bahkan Gladys pun melihatnya dengan tatapan terpana. “guru yang ramah”
Entah mengapa Bu Ratna menaruh simpati kepada Gladys, siswi berambut pendek sebahu yang sederhana itu. Bahkan saat pelajarannya dimulai, bu Ratna berusaha mendekati dan mencari simpati kepada Gladys dengan memberikan soal-soal matematika untuk dikerjakan ke depan kelas.
Sebulan sudah Gladys bersekolah di sekolah barunya, kedekatan Gladys dan Bu Ratna menjadi perhatian teman-teman sekolahnya termasuk Rani. Karena Bu Ratna memang bukanlah sosok guru yang terkenal ramah, dan sangat jarang menampakkan dirinya di sekolah. Paling-paling jika ada jadwal mengajar saja. Tetapi, semenjak kedatangan Gladys, Bu Ratna selalu ada di sekolah setiap hari, walaupun tidak ada jadwal mengajar. Rani menaruh rasa curiga terhadap tingkah Bu Ratna belakangan ini, selain itu rasa cemburu sosial pun muncul. Gladys adalah teman baik Rani, dan semenjak kedekatannya dengan Bu Ratna, Rani merasa kurang diperhatikan oleh Gladys. Kemanapun Bu Ratna pergi, Gladys selalu menemani. Di kantin, di kamar mandi, di taman, dan yang paling sering adalah di perpustakaan.
“kamu dengan Bu Ratna seperti anak dan ibu, bahkan di sini jarang ada ibu guru yang seakarab itu kepada anaknya jika memiliki anak yang bersekolah di sini.” Tanya Rani yang duduk sebangku dengan Gladys.
“Ya begitulah.. hehe” jawab Gladys santai.
“Kamu ada hubungan saudara ya?”
“Mungkin.” Dan Gladys pergi ke perpustakaan sendiri. Rani menyusul ke perpustakaan, namun tanpa sepengetahuan Gladys. Gladys duduk di bagian dalam, tempat dimana murid-murid yang kerap berpacaran berkumpul. Gelagat-gelagatnya mencuri perhatian Rani. Gladys duduk bersebalahan dengan Bu Ratna, mereka hanya berbekal buku, namun tidak dibaca. Hanya tersenyum-tersenyum kecil sambil berbincang, dan sesekali Bu Ratna merapikan rambut Gladys, boleh gabung?” tanya Niko, salah seorang murid yang memang hobi membaca buku di perpustakaan.
“Ibu keluar sebentar ya.”
“Kamu adiknya Bu Ratna ya?”
“Bukan kok. Aku ke kelas dulu ya Niko. Daa..”
Gladys pergi dengan wajah agak kesal dan mengembalikan buku ke rak buku dimana tempat Gladys mengambil buku tadi.
**
“Gladys, besok ibu tunggu kamu di perpustakaan. Kebetulan Bu Sri sedang besok tidak mengajar biologi.”
“iya ibu.” Isi pesan singkat yang dimulai oleh Bu Ratna untuk Gladys.
**
“Rani, aku ke perpustakaan dulu ya.”
“nyari Bu Ratna ya?”
“hm..” Gladys tampak memasang wajah penasaran dengan pertanyaan Rani. Gladys yang belakangan ini sering menjauh dari Rani dan bersikap dingin membuat Rani semakin curiga dengan Gladys.
Di perpustakaan, tampak mereka berbincang-bincang tidak seperti guru dan murid. Keakraban mereka melebihi batas itu. Seperti ibu dan anak, tetapi tidak mungkin, mereka sama-sama masih muda. “apa mungkin mereka bersaudara?” pikir Rani yang selalu memantau sehabatnya karena belakangan ini Rani merasa kedekatan mereka renggang karena guru matematika itu, banyak perubahan yang terjadi di sini. Di sekolah ini semenjak Gladys datang. Utamanya dengan Bu Ratna dan Gladys yang sepertinya menyimpan rahasia tersendiri.
Satu semester berlalu, dan sekarang mereka sudah berpindah ke daerah utara, atau bisa dibilang kelas 3 SMA. Dan saat ini Bu Ratna sudah tidak mengajar kelas Gladys lagi. Perubahan semakin terasa, mulai dari Gladys yang sering pulang dan berangkat ke sekolah dengan Bu Ratna, dan masih seperti hari-hari sebelumnya, berdua di perpustakaan, bahkan belakangan ini Gladys sering terlambat pulang karena urusannya dengan Bu Ratna di sekolah. Bukan hanya menyita perhatian Rani, tapi juga perhatian anak-anak lain. Kecemburuan, dan kecurigaan karena ini semua bagaikan rahasia umum.
“Kedekatan ini bukan kedekatan biasa” pikir Rani yang selalu memperhatikan gelagat sahabatnya. Hingga suatu hari Benny, pemain basket dari SMA nya menaruh perhatian kepada Gladys. Tetapi keanehan terjadi lagi. Benny selalu saja dimarah oleh Bu Ratna seakan-akan seorang ibu yang tidak rela anak gadisnya di dekati lelaki. Padahal Benny adalah lelaki yang tampan dan polos.
**
Sekolah sepi karena semua murid sudah kembali ke rumahnya masing-masing, tetapi Gladys tidak. Dia tetap bersama Bu Ratna di perpustakaan tersebut. Rani yang selalu penasaran dengan tingkah sahabatnya tidak henti-hentinya memantau gerak-gerik Gladys dr luar perpustakaan, walaupun agak susah untuk melihat ke dalam. Mereka berdua keluar dan berjalan menuju kelas XII bahasa yang terletak di lantai 3 dan kelas paling pojok. Bu Ratna merangkul pundak Gladys seperti layaknya 2 pasang sahabat yang berumur sebaya.
“Gladys, kamu duduk disini, aku keluar sebentar melihat keadaan.” Kata Bu Ratna sambil tersenyum. Manis. Saat itu Rani belum naik ke atas, di amasih bersembunyi di kelas bawah. “jder!” suara pintu kelas yg di tutup bu Ratna.
Rani segera naik ke atas dengan perlahan, dan berdiam di sebelah selatan kelas yang pintunya berasa di sebelah utara. Rani mengintip gerak-gerik mereka lewat jendela belakang kelas. Dan...
“Hay! Apa yang kulihat? Apa? Ini semua seperti mimpi! Ini semua diluar pikiranku! Ya Tuhan, apa yang harus kuperbuat sekarang? Dia sahabatku Tuhan. Ini mimpi! Aku yakin ini pasti mimpi. Apa yang aku lihat bukan kenyataan. Tuhan, sadarkan aku. Bangunkan aku. Mereka sama-sama wanita, tapi? Argh!!!” pikir Rani. Keringat Rani bercucuran. Udara saat itu terasa dingin. Kaku. Tidak bisa bergerak melihat apa yang sedang terjadi antara Bu Ratna dan Gladys. Mereka Berciuman! Sangat mesra. Bahkan Rani belum pernah melihat Gladys seperti ini dengan lelaki.
Rani tidak kuat melihat semua ini. Ia berlari menuruni tangga dan suara sepatunya terdengar keras hingga membuyarkan kedua pasang lesbian itu. Dengan cepat Bu Ratna melepaskan ciumannya dan berlari ke luar balkon untuk melihat siapa orang yang berlari dan telah menyaksikan perbuatan mereka. Tetapi terlambat, Rani sudah menghilang dan mereka tidak mengetahui siapa yang telah melihat mereka.
“Ratna, siapa yang melihat?”
“Maaf Gladys, aku tidak tau siapa yang telah melihat kejadian kita tadi” Gladys menangis dan duduk sambil menutup wajahnya menggunakan tangannya.
“Lalu apa yang harus aku perbuat?” tanya Gladys gelisah.
“Bu Ratna berusaha memeluk Gladys, tetapi Gladys melepas dan berlari turun ke bawah”
**
Hingga saat ini Rani masih menyimpan rahasia itu sendiri. Walaupun ia dilema dengan apa yang harus ia lakukan, tetapi Gladys adalah sahabat Rani. Semenjak kejadian itu, Gladys tidak pernah terlihat dekat lagi dengan Bu Ratna. Begitupun Bu Ratna yang kembali jarang terlihat di sekolah. Gladys memang tampak tidak sesumbringah biasanya, tetapi Rani senang karena inilah Gladys yang dulu pernah dikenal Rani.
“Gladys, aku sahabatmu, jika ada masalah, aku siap membantu”
“Terimakasih Rani, sahabatku” dan lagi, Gladys kembali memancarkan senyuman kepada Rani. Sikap dinginnya hilang, Gladys kembali suka berbagi cerita dengan Rani seperti biasanya. Tetapi tetap Gladys belum menceritakan tentang hubungannya dengan Bu Ratna dulu.