Yang Punya
- Tara Anggita
- Denpasar, Bali, Indonesia
- terbang naik elang, diserempet naga. selamat datang, selamat membaca :)
Sabtu, 28 Januari 2012
Ini Trismaku, mana Trismamu?
Kamis, 11 Agustus 2011
Inspirasiku di KAMAR MANDI
Yah, seger banget habis dari kamar mandi. Kamis, 11 Agustus 2011 jam 7 malem aku baru pulang dari sekolah, habis seleksi anggota Madyapadma 35. Cukup seneng sama antusiasme anak-anak 35 buat seleksi MP. Tp lumayan sedih jugak gara-gara mereka harus diseleksi. Sama kayak angkatanku dulu, bedanya sekarang cuman nerima 25 anggota, sedangkan dulu 30 orang. Tp sekarang yang seleksi cuman 45 orang, kalo pas angkatanku sih katanya 60-an gitu. Yang lolos maupun ngga lolos, ttep semangat yaa, kita tetep harus jadi orang yang berguna buat SMA Negeri 3 Denpasar ke depannya.
Yah, to the point deh. Tadi di kamar mandi aku ada kejadian biasa yang menarik setelah aku sadari. Hahaha. Hayooo, pasti pada penasaran yaa ada apa aku di kamar mandi. (ada yang negativ thinking ngga? Ngakuu ngakuuuu!!!)
Gini loo blogwalker, pas mandi tadi kan aku keramas sambil di guyur air dingin d shower. Pertamanya kepalaku panes karena ‘sebenernya’ aku capek, tp tiba-tiba berubah jadi dingin karena bulir-bulir air dari shower. Terus aku sedikit merenung di bawar bulir-bulir air itu. “siapa aja yah orang-orang yang pernah hina aku?” sumpah suer samber geledek deh aku lupa banget sama orang-orang yang pernah menghina aku. Terus tiba-tiba aku mikir dewasa dan gilak sumpah bijak banget gueehh. “Jadikanlah hinaan sebagai keluhan”. Jadi, ya muncullah kesadaranku untuk menulis di blog tercintaku ini.
Dan semenjak itu aku sadar, ternyata udah banyaaaak banget inspirasi ku yang dateng pas aku mandi, boker, atau pipis. Wkwkwk. Maaf jorok dikit, kan jujur. Kamar mandi hebat banget –“
Dan untuk selanjutnya, marilah kita bersama-sama membaca postingan selanjutnya. “click here!”
Hinaan = Keluhan
Oiii, jangan merasa dewasa dulu blogwalker. Ini ada artikel yang seperti curhat yang ‘semoga’ bisa memotivasi, memicu, dan merangsang #alaah para pembacanya supaya bisa lebih dewasa lagi dalam nyelesaiin masalah. Diusia sekita-kita ini nih (10-19 tahun, kalo blogwalker lebih tua, ttep harus lanjut baca) biasanya masih labil banget atau sering disebut ABG labil. Emosi kota sering meledak-ledak dan rata-rata seusia kita ini pada-pada moody gitu. Jadi aku punya satu pendapat yang aku temuin di kamar mandi saat mandi di bawah bulir-bulir air. Hhe
Lanjutt. Kalian pasti kan pernah dihina sama siapa kek gitu.. misalnya temen, musuh, bapak, ibu, adik, kakak, eyang, kakung, tante, om, bibi, mas, abang, eneng, enyak, konco, atasan, bawahan sampe binatang peliharaan yang sebut saja ‘pacar’. Ya kan? Terus kalian pasti marah kan kalo di hina? Wajar sih kalo blogwalker pada marah.. tapi, jangan pake kekerasan. Semua ini bisa diselesaikan dengan cara baik-baik dan penuh rasa bertanggung jawab tanpa meninggalkan sopan santun, etika, atitud, toleransi, dan keharmonisan untuk mencapai sebuah kesejahteraan ‘apaa sihh’. Salah satu caranya adalah.. *jrengjrengjreeeng. JADIKANLAH HINAAN ITU SEBAGAI SEBUAH KELUHAN buat kamu. Dari kalimat itu, mungkin kamu udah tau apa yang aku maksud. Supaya ngga terlalu muluk-muluk yaa, makanya aku pake ‘keluhan’ bukan pujian. Karena ngga mungkin banget ada hinaan jadi pujian.
Kenapa keluhan?? Keluhan itu ada untuk memeperbaiki kesalahan atau kekurangan orang yang diberi keluhan. Jadi, seharusnya berterimakasihlah pada orang-orang yang sudah menghina kamu. Anggap saja mereka mau membantu kita untuk mengubah diri menjadi baik dan baik lagi. Karena hinaan itu, kamu bakalan tau dimana kekurangan kamu dan cobalah instrospeksi diri sampe dia ngga mengeluh (baca: menghina) tentang kamu lagi.
Tapi, ngga munafik, rasa marah itu pasti ada kan? Sudah saya bilang, WAJAR. Hanya saja, jangan kelewatan marah nya sampe bentak-bentak, pukul-pukulan atau bacok-bacokan. Terus nii yaaa, liat jugak intensitas hinaannya :p kalo cuman sekedar bilang “kamu tu resek banget sih, masak bocah lima tahun kamu suruh manjat pohon pisang” itu sih gpp, bisalah kita pake buat introspeksi diri. Tapi kalo jenis hinaanya udah nyampe ke level ‘fitnah’, mending kamu lurusin secara kepala dingin sama yang fitnah kamu. (catatan:kalo dia tetep nyolot padahal ngga ada bukti, gebukin aja). Tapi, kalo gosip (gosip adalah buah hasil dari fitnah yang biasanya digunakan untuk para artis ternama seperti KITA) itu udah nyebar di halayak luas, terus uda bikin kamu bener-bener ga bisa berkutik seakan-akan udah jatuh tertimpa tangga tertiup badai dan terbawa arus laut lalu dehidrasi di gurun sahara, hipotermia di kutub utara, dan hilang di segitiga bermuda, mending kamu ngurung diri, atau bunuh diri, atau mutilasi diri deh. Eh salah :p maksudnya, mending kamu buktiin ke mereka kalo itu ngga bener. Jangan minder dulu. Selama kamu bener, ngga ada yang perlu kamu takutin, kecuali Tuhan, karena Tuhan akan memberikan cobaan yang pasti bisa dilalui oleh umatnya O:-) prokprokprokprok... (kok topiknya kemana-mana yah?)
Oke blogwalker semua, itu dia tadi sedikit artikel dari Tara yang inspirasinya keluar di KAMAR MANDI. Wkwkwk. Ternyata kamar mandi juga bisa dipake cuci otak yaa. Dari yang bejat, kejam, hina, nista, kayak aku ini bisa jugak ngomong gitu karena kamar mandi. Ya wess blogwalker, selamat membaca postingan selanjutnya..
Catatan: kalo ada yang hina kamu kayak gini “kamu kok jelek?” “hidungmu kok pesek?” “mulutmu kok lebar?” “kulitmu kok hitem?” “gigimu kok banyak spasinya?” saya sarankan untuk berpasrah dan legowo karena itu adalah kenyataan, bukan hinaan (Tuhan berkehendak lain). Ngga usah berusaha merubah semua itu, itu adalah keunikan yang Tuhan kasi buat kamu, mesti dijaga mamen. Ngga perlu ngerombak diri sampe operasi plastik. Keep your smile, because with a little smile you can di a big change. Mwa mwa
Kamis, 04 Agustus 2011
Ice Cream: inspiration in class


Makanan dingin,manis,nan pekat ini pasti sudah gak asing dengan mulut kalian kan? Ya itulah es krim. Mau tau lebih banyak ga tentang es krim….Lanjut yuuup…. slurp!
Menurut catatan sejarah,es krim itu katanya ditemukan oleh bangsa Cina sekitar tahun 700M, dan menjadi persembahan bagi Raja Tang dari Dinasti Shang. Es krim sang raja ini ternyata dinbuat dari segenggam salju yang dibekukan dengan tambahan susu dan sari buah plus lumuran madu. waktu itu namanya disebut xuebaite. Terus, terbukanya hubungan dagang antara Cina dan Italia, membuka peluang bagi Marcopolo, si penjelajah lautan dari Italia membawa resep es krim ke negaranya. Bedanya, es krim dari negeri mafia itu dibuat dari sirop yang dibuat dengan campuran es. Nah, es krim ala Italia inilah yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru Eropa. di Amerika, es krim baru populer pada abad ke-19 seiring dengan penemuan mesin pembuat es krim khusus untuk memenuhi perminta an seantero rakyat Amerika yang tinggi terhadap es krim.
Kalo belum tau komposisi es krim secara umum, es krim dibuat dari bahan penstabil (stabilizer) dan perekat (emulsifier). untuk penyajiannya, bisa dengan scope cone, cake, atau stick. di beberapa negara, es krim malah disajikan dengan minuman hangat, dibentuk menjadi butiran-butiran kecil yang disebut minimelts, hingga digoreng.
fact about ic cream:
-mengandung 10%-16% lemak susu yang berfungsi memberi tekstur lembut pada es krim dan memberi citarasa khas pada es krim,
-mengandung 12%-16% pemanis (sweetner) yang memberikan rasa manis pada es krim dan membuatny jadi lebih kental
-mengandung 55%-65% cairan yang berasal dari susu dan bahan lainnya sebagai unsur utama pembuatan es krim.
Ada beberapa ciri khas es krim di dunia sesuai negara asalnya. Di Italia, es krim yang populer adalah Gelatoo sole mio ini juga punya sorbetto dari Italia bagian selatan dengan ciri khas citarasa lemon dan orange. di Perancis, es krim yang populer adalah eskrim dengan kadar liqueur (semacam alkohol pada minuman wine/bir) tinggi. Di Amerika lain lagi, karena masyarakatnya adalah penyuka makanan yang padat rasa dan porsi, maka eskrim dengan paduan cookies, karamel dan kacang-kacangan plus porsinya yang lebih besar (bisa seukuran double ampe triple scoop dari es krim lain) jadi eskrim favorit negeri pimpinan George W. Bush. di Turki, es krim yang populer adalah dondurma, es krim yang terbuat dari susu kambing dengan paduan sachlav (akar dari sejenis anggrek liar Turki yang dihaluskan). di India, es krim yang populer dengan sebutan kulfi dibuat dari susu kerbau dengan tambahan perasa pistachio, mangga, kapulaga, dan saffron. di Jepang, es krim dibuat dari teh hijau (maccha ice cream) dan kacang merah (ogura), ada juga es krim mochi yang memang dibuat dari adonan kue mochi. di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia kita mengenal es puter yang dibuat dari santan tanpa menggunakan krim. citarasa yang dipake juga khas Indonesia, seperti Kopyor, Advokad, dan kacang hijau. ada juga es potong dari negeri jiran dengan bahan dasar santan tapi dengan penyajian harus dipotong dulu, baru ditusuk ke stik atau diapit dengan roti (ice cream sand wich). (dalam bahasa Italia artinya "menjadi beku"), keunikannya, gelato hanya dibuat dari bahan dasar susu, pemanis, cokelat dan kacang-kacangan segar ampe kuning telur. yang paling penting, dengan komposisinya yang dibuat dari bahan segar, gelato memiliki kadar lemak lebih rendah 3% dari es krim biasa. cocok buat yang lagi diet. selain Gelato, negeri asal lagu
Saya begitu suka sesuatu yang biasa di sebut ice cream ... menurut saya ice cream bisa membuat awet muda .. hihih~ jadi makanlah ice cream ... oh ya, supaya lbih enak buatlah ice cream sendiri dan jangan lupa tambahkan potongan buah sesuai dengan rasa ice cream . pasti tambah yummiy .... kalo saya pribadi paling cintaaaa sama ice cream strawberry SELAMAT MENCOBA ....
Rabu, 11 Mei 2011
Indonesia Pencetak Pinokio Bungkuk
“Sekolah untuk meraih masa depan”. Inilah kata-kata yang selalu terbayang-bayang oleh murid-murid sekolahan. Pembahasan materi yang kurang mengasikkan, menegangkan, atau cenderung bersifat memaksa ini dapat membuat generasi muda tertekan, bahkan stres di masa mudanya. Paksaan ini dapat diartikan para siswa dipaksakan untuk segera mengerti kurikulum dalam kata lain menuntut, bukan menuntun siswa.
Setiap pagi murid-murid berjalan di halaman sekolah menuju kelas masing-masing dengan tas yang menggembung. Entah benar berisikan buku-buku pelajaran yang tebal, mahal dan bilingual (dua bahasa) yang belum tentu semua guru mengerti bahasa inggris itu, atau bisa dibilang mubazir kertas, atau mungkin tas itu berisikan batu yang setiap hari menemani mereka ‘belajar’.
Di jaman ini sangat susah membedakan antara “mendapatkan ilmu adalah hak setiap anak” dan “mendapatkan ilmu adalah kewajiban setiap anak”. Di sekolah murid-murid dipenuhi dengan perasaan beban. Sungguh ironis, semakin berkembangnya jaman, cara belajar seharusnya lebih efektif, efisien, menyenangkan dan asik. Tetapi anehnya, semakin banyak manusia yan berhasil menemukan karya-karya ilmiah, robot, atau penemuan-penemuan lainnya, malah tidak ada manusia yang dapat menemukan cara belajar yang benar-benar efisian waktu, dan efektif. Bahkan jaman sekarang anak-anak dituntut untuk belajar dengan cara yang menyusahkan dan menjadi beban oleh murid. Bayangkan saja, setiap hari sang anak harus menanggung beban mata pelajaran, menghapal rumus ini itu, membuat tugas ini itu, les ini itu, pelatihan ini itu, bimbel untuk UN, untuk masuk ke perguruan tinggi, untuk masa depan. Katanya. Padahal belum tentu semua kurikulum atau paksaan-paksaan itu bisa sesuai dengan cita-cita atau bakat sang anak.
Pemaksaan yang mungkin saja berujung sia-sia itu telah mengambil keindahan masa kecl sang anak, kehilangan waktu bermain, belajar dari pagi sampai sore, ketika sampai di rumah harus belajar lagi untuk esoknya dan kadang tidak pernah bisa menikmati tidur nyenyak. Bahkan, untuk mengembangkan hobinya di bidang lain pun susah karena tuntutan untuk belajar sains, sains, dan sains, padahal hobi bisa dibilang sebagai bakat yang terpendam. Yang terbayang hanyalah guru-guru yang siap memarahi kita apabila terlambat datang ke sekolah, ketika tidak membuat tugas, ketika tidak hafal rumus. Belum lagi tagihan-tagihan pembayarang SPP, uang buku, uang kas. Untuk sekedar sarapan atau berkumpul dengan keluarga pun harus tertunda karena paksaan yang disebut belajar ini.
Seperti anak-anak sekolah dasar di suatu kota. Dari pagi mereka sudah dituntut untuk tidak tenang, apalagi saat musim musim ujian, murid-murid di antar oleh orang tuanya menggunakan sepeda motor, sedangkan sang anak menunduk ke bawah sambil membaca buku tebal dan bilingual itu. Kebiasaan ini membahayakan siswa dan orang tua. Ini semata-mata karena ingin lulus dari derai paksaan selama 6 tahun di sekolah dasar, karena keputusan ‘angka’ dari pusat yang dapat menentukan kelulusan. Padahal, belum tentu anak-anak yang tidak lulus karena mata pelajaran sains atau teori-teori itu tidak memiliki talenta. Bisa saja ia memiliki bakat di bidang bahasa inggris, namun nilai IPA pada ujian mereka anjlok, dan mungkin seorang anak yang memiliki talenta di bidang kesenian, tetapi bidang kesenian tidak di-UN-kan, berarti pupuslah sudah harapan dan masa depan sang anak hanya karena angka penentu kelulusan tersebut.
Diliat dari fakta, dibandingkan dengan negara Jepang dan Australia, waktu libur dan waktu belajar diseimbangkan, tidak seperti Indonesia yang menuntut agar waktu belajar lebih lama dari pada waktu libur karena tuntutan-tuntutan kurikulum yang selalu bertambah dan bertambah padahal pada ujung-ujungnya hanya 5 mata pelajaran yang di-UN-kan. Tetapi kelima mata pelajaran itu belum tentu juga sesuai dengan bakat dan kemampuan generasi muda. UN memang penghambat jalannya kesuksesan generasi muda kita saat ini. Bayangkan, Jepang hanya mematok waktu belajar dari ... – hingga.... dan waktu libur dari ....... hingga ......., sedangkan untuk Australia
Memang sangat lebih baik kelulusan tidak hanya dilihat dari mata pelajaran yang di-UN-kan. Selain itu sebaiknya anak-anak tidak dituntut untuk selalu belajar sains, belajar matematika, belajar kimia, fisika, biologi, dan lain-lain yang menyangkut rumus-rumus karena masih banyak lagi bakat atau talenta yang bisa digali. Generasi-generasi yang sukses bukan hanya dari bidang akademis yang selalu diadu di kancah yang biasa atau mungkin disebut ‘olimpiade’. Kesenian, kebudayaan, atau bakat2 non akademis lain pun bisa menghasilkan uang, dan kesuksesan tanpa harus diadukan dengan kemampuan orang-orang yang lain. Jadi, belajar memang harus diimbangi dengan aspek-aspek lainnya. Belajar bukan hanya akademis yang selalu menghafal, berhitung, dan bereksperimen, tetapi belajar untuk sebuah pencapaian kesuksesan juga bisa diartikan dalam non akademis, yang santai, tergantung hobi dan menyenangkan. Oleh karena itu, tak ada gunanya memaksakan kehendak anak dengan tuntutan selalu membawa buku besar, tebal, bilingual, di dalam ransel yang selalu di gendong anak setiap harinya dan membuat anak-anak kita bagaikan pinokio bungkuk yang digerakkan oleh peraturan-peraturan dan paksaan. Semoga untuk kedepannya Indonesia bukanlah pencetak pinokio bungkuk, tetapi pencipta orang-orang bertalenta yang tegak,berduit, dan tidak bungkuk.
Bertahan di Tengah ombak Globalisasi
Dijaman globalisasi ini, sangat banyak usaha-usaha atau pengaplikasian untuk mempertahankan budaya tanpa meninggalkan atau melawan arus globalisasi.
Budaya atau kesenian di Bali, sangat erat hubungannya dengan upacara adapt/keagamaan. Biasanya, remaja jaman sekarang sedikit yang memperhatikan dan menggemari, bahkan tidak banyak yang bisa dan mengerti cara membuat gebogan.
Gebogan adalah banten atau sesaji yang biasa dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sesaji ini biasanya berisi buah-buahan.
Bukan hanya itu, remaja saat ini banyak yang kurang mengerti cara membuat beberapa sarana persembahyangan seperti penjor, lamak, kwangen, pejati, dll.
Kurangnya perhatian remaja ini disebabkan karena beberapa faktor, yaitu kurangnya inisiatif lingkungansekitar bahwa budaya bali sangat berkaitan dengan upacara adapt, maka karena itu, SMAN 3 Denpasar mengadakan beberapa lomba-lomba di saat piodalan.
Ternyata tidak sedikit siswa yang antusias dengan perlombaan ini. Hasil-hasilnya pun cukup memuaskan dan sesuai denga kriteria. Lomba tersebut adealah lomba membuat lamak, gebogan, pejati, kwangen, canang sari, bahkan penjor.
Diharapkan agar para siswa dan siswi tidak hanya antusias di saat lomba saja, tetapi juga bisa mengembangkannya di kehidupan sehari-hari.
Lomba ini adalah salah satu cara untuk menunjukkan kreatifitas siswa dan mempertahankan budaya bali di tengah ombang-ambingnya globalisasi.
Bali Bukan Jakarta
Bali dan Pulau Bali bukanlah hal baru bagi dunia pariwisata Indonesia, juga dunia. Bahkan, di manca negara Bali lebih dikenal dibandingkan Indonesia. Perbincangan tentang Bali pun bukan hal yang baru setahun-dua mendominasi pemberitaan media-media masa baik nasional maupun internasional. Bali telah ‘go-international’ sejak dulu kala. Bali secara sadar atau tidak telah menjadi ikon kepariwisataan Indonesia di mata dunia.
Semakin lama di Bali yang telah tertanamkan kepercayaan tentang bhisama atau doktrin-doktrin yang disepakati untuk mengatur kesucian tempat-tempat suci di Bali sesuai dengan PHDI tahun 1994. Sebenarnya penyelewengan dari Bhisama ini telah ada sejak lama, namun baru disadari sekarang karena telah semakin terlihat. Sebagai contoh nyata, Bali Beach Hotel di wilayah Sanur yang merupakan bangunan tinggi sedangkan di bawahnya terdapat Pura atau tempat Suci.
Di bali telah tertanamkan kepercayaan dan keyakinan-keyakinan yang telah mendarah daging. Seperti yang kita ketahui, pemerintah di Bali sedang marak-maraknya membicarakan tentang perencanaan pembuatan Fly Over atau jembatan layang yang di buat untuk mengurangi kemacetan di wilayah Simpang Siur Kuta. Tetapi doktrin atau Bhisama yang berada di Bali bahwa Fly Over itu tidak di perbolehkan karena telah melewati tempat-tempat suci di bawahnya. Sedangkan beberapa orang-orang yang melewati Fly over tersebut bisa saja sedang dalam keadaan cuntaka atau “leteh” dalam bahasa Balinya. Pembangunan jalan layang di seputaran patung Dewa Ruci Kuta dengan panjang dua kilometer, diperkirakan akan menelan biaya antara Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar.
Perencanaan ini telah mengundang kontroversi bagi para penduduk di Bali karena Fly Over sepanjang 2 kilometer tentu akan melewati Padmasana atau Tempat suci di bawahnya dan itu akan mengakibatkan “leteh” pada bangunan suci yang ada di bawahnya. Dan Bali adalah bukan Bali lagi yang telah melanggar aturan-aturan yang sudah ada dan dipercaya di Bali.
Jika proyek pembangunan jalan fly over di simpang Dewa Ruci batal dilaksanakan, maka Bali tak akan pernah lagi mendapat jatah proyek prstisius dari Pemerintah Pusat. Mengapa pemerintah sangat menginginkan Dana untuk pembangunan Fly Over yang padahal rakyat di Bali masih banyak yang kurang mampu. Lebih baik dana tersebut di gunakan untuk membantu rakyat miskin yang ada di Bali.
Pemerintah seharusnya lebih memikirkan dalam-dalam tentang pembuatan Fly Over. Pemerintah Bali harus mengikuti Doktrin yang ada di Bali karena inilah Bali. Dan Bali bukanlah Jakarta. Masih banyak cara untuk mengindahkan dan melestarikan Bali tanpa merusak Bhisama yang ada. (Tar)
