Yang Punya

Foto saya
Denpasar, Bali, Indonesia
terbang naik elang, diserempet naga. selamat datang, selamat membaca :)

Rabu, 26 Maret 2014

Sela-Sela Jari Tanganku Hilang

Vee berjalan mengikuti pesisir pantai Sanur sembari mengenang Rai. Ya, mengenang. Pantai ini adalah pantai berpasir putih yang sering dikunjungi Rai dan Vee dulu.
Saat itu Vee sedang berusia 19 tahun. Ia berkuliah di salah satu fakultas ekonomi di Bali semester tiga. Vee memiliki mata coklat dengan hidung yang mancung. Rambut panjang hitam lebat. Bibir merah. Layaknya puteri salju di dongeng-dongeng. Vee gadis yang setia. 4 tahun sudah ia menjalani hubungan dengan Rai. Lelaki yang biasa saja. Berpenampilan apa adanya, namun bersahaja dan selalu menjadi perhatian para guru maupun dosen.
Kejadian bermula saat Vee mencoba mengajak Rai ke pantai lain, yaitu pantai berpasir hitam di kawasan Gianyar. Pantai Cucukan. Ombak dan suasana di pantai ini sungguh berbeda dengan suasana di Pantai sanur yang jauh lebih indah walaupun berada di tengah kota. Vee bermain bola dengan Rai dan Rada. Rada adalah adik Rai yang juga hobi bermain sepak bola. Saat Vee dan Rai bermain-main, Rada dengan semangatnya berlari ke arah Vee untuk mengambil bola, tetapi Vee menendang bola dan bola bergelinding ke arah Pantai berombak besar itu.
“Ambil Rai!” teriak Vee memerintah penuh paksaan, tetapi Rai tidak ingin mengambil bola milik Rada karena ombak yang besar.
“Tega kamu, sayang. Ombaknya terlalu besar untuk aku taklukkan”
“kalau kamu berhasil mengambil bola itu, berarti kamu sudah membuktikan bahwa kamu memang benar mencintaiku.” Ancam Vee.
“Sayang... itu bahayaa..”
“Rada, sepertinya Bli Rai tidak menyayangiku.” Kata Vee sambil tersenyum sinis.
Dengan senyuman dan kecupan kecil di kening Vee, Rai berlari ke arah air dan bersikeras melawan ombak untuk mengambil bola merah milik Rada. Lambat laun, Rai hilang, tidak terlihat dan Vee mulai kebingungan.
“Rada, dimana Bli Rai?”
“entahlah..” sautnya cuek sambil memakan sate di pinggir pantai.
            “Rada, itu bolamu bukan?”
“Ya, mungkin Bli Rai masih membeli minuman.”
Sejam telah berlalu, Rai belum juga kembali. Semua disadarkan dengan teriakkan seorang nelayan yang menemukan sesosok Pria terombang-ambing di tengah laut.
“Tolong! Ada mayat! Adaa mayaatt!”
Sontak Vee berlari dan melihat ke arah perahu yang dibawa nelayan itu.
Diam. Pikiran Vee seketika kosong. Badannya berat, kaku, tidak bisa bergerak. Melongo melihat keadaan mayat yang sudah berwajah pucat tersebut. Air mata pun menemani. Genggaman tangan Vee melepas Rada. Rada yang sudah menangis tersedu-sedu mulai memeluk tubuh Vee. Namun Vee tidak membalas. Vee hanya terdiam sambil meneteskan air mata. Hingga akhirnya jatuh lunglai ke pasir. Ya, itulah Rai. Yang sudah hanyut termakan ombak. Sesal yang tersisa di benak Vee yang sudah membuat Rai membuktikan cintanya hingga termakan maut.
Hampir 15 menit Vee tidak sadarkan diri, saat itu tentu saja Rada kebingungan bukan main dengan kedua kakaknya yang tidak sadarkan diri. Untung saja orang-orang di pantai itu baik hati, jadi mereka menggotong Rai dan Vee ke salah satu rumah nelayan di sana. Rada diberikan minuman, dan beberapa orang lainnya berusaha menghubungi polisi dan rumah sakit terdekat. Sedangkan Pak Tut, menghubungi orang tua Rai setelah bertanya-tanya kepada Rada yang masih menangis hingga kedua orang tua Rai datang dengan wajah pucat pasi. Vee pun sadar dan duduk di sebelah jenazah Rai yang sudah kaki dan pucat.
“Rai. Rai!!!” Vee mengguncang tubuh Rai, dan ibu Rai menarik Vee yang baru sadarkan diri.
“Kenapa Rai, Vee?”, tanya ibu Vee sedikit membentak.
Vee hanya diam dan duduk terpaku dengan tatapan kosong. Sedangkan ibu Rai terus memeluk Vee yang air matanya mengalir tapi tatapannya kosong. Ayah Rai sibuk berbicara dengan Pak Tut dan beberapa Polisi. Rai masih tetap menangis memeluk pinggang ibu Rai. Dan orang tua Vee juga datang akibat panggilan dari ayah Rai. Jelas semua yang datang pada saat itu kaget dengan berita bahwa Rai hanyut tertarik ombak.
Pikiran Vee saat itu campur aduk, antara merasa kehilangan dan merasa bersalah tentunya. Tadi, Veelah yang memaksa Rai untuk mengambil bola itu. Vee tetap diam, hingga akhirnya Rai dibawa ke rumah duka. Orang tua Vee membawa Vee pulang dan Vee tetap diam sambil menangis. Sebentar-sebentar suara tarikan nafas Vee yang berat terdengar. Ayah Vee menyetir di depan, Rada duduk di depan dan ikut dengan orang tua Vee untuk diajak pulang ke rumah Rai karena orang tua Rai pergi ke rumah duka bersama jenazah Rai. Vee dan ibunya duduk di belakang, berusaha mengajak Vee berbicara tetapi nihil. Vee tetap diam dan menangis, terpukul, shock, dan takut. Orang yang dia cintai pergi di usianya yang masih muda dan belum sempat merasakan romantisnya pelaminan.
Empat bulan sudah berlalu. Vee sering kali bercerita kepada Ibunya bahwa setiap Vee menutup mata, selalu ada yang menghilangkan sela-sela jari tangannya. Bahkan tidak jarang Vee tertawa sendiri saat menutup mata. Sela-sela jari tangan yang hilang. Vee selalu bilang, sel-sela jari tangannya hilang. Begitu terus.
            Saat aku menutup mata, ada seseorang yang datang menghampiriku untuk menggenggam salah satu tanganku, hingga aku merasa, sela-sela jari tanganku hilang. Genggaman yang begitu tulus, genggaman yang begitu yakin bahwa sang penggenggam adalah orang yang sangat mencintai aku dengan tulus. Itu adalah genggaman tangan Rai. Ternyata Rai belum mati. Rai ada dimana pun aku membutuhkannya. Rai selalu menggenggam tanganku disaat aku merindukannya. Rai yang selalu membuatku tersenyum dan tertawa hingga saat ini. Rai belum mati! Rai sering datang ke sini. Dan aku melihatnya.
            Ucap Vee di depan dokter psikolog. Ibu Vee membawa Vee ke psikolog karena tidak kuat melihat anak cantiknya selalu menangis dan tertawa-tertawa sendiri sambil menutup mata. Vee yang masih tidak bisa menerima kepergian Rai setahun lalu selalu saja berangan-angan bertemu dan berbicara dengan Rai. Hingga akhirnya seorang lelaki jangkung bernama Dede menaruh perhatian kepada Vee. Dedelah psikolog  yang setia merawat Vee. Dede yang tidak tega melihat pasiennyaa yang cantik ini sakit.
            “Vee, coba kamu tutup matamu dan undang Rai datang kesini. Aku ingin melihat wajah tampan Rai” kata Dede, psikolog muda.
            “Baiklah, aku harap kamu tidak terpesona dengan ketampanannya. Karena dia sudah mencintaiku terlebih dahulu.”
            “Apa yang kamu lakukan jika yang menggenggam tanganmu itu bukan Rai?”
            “Tidak mungkin! Aku sudah melihatnya, Railah yang mengganggam tanganku. Jika tidak, tentu aku akan mencintai orang yang  sudah menggenggam tanganku. Siapapun itu.” Vee mulai menutup matanya. Dan apa yang terjadi?
            Vee mulai tersenyum. Lalu berkata “aku mencintaimu”. Tangan kanan Vee terangkat dan menggenggam tangan kiri nya.
            “Dede, lihat, dia datang dan menggenggam tanganku. Sekarang apa kau percaya?” kata Vee sambil tetap menutup matanya dan tertawa kencang.
            Sungguh malang sekali kamu Vee, sahabatku. Ternyata imajinasimu tentang kehilangan sela-sela jari tangan adalah tangan kananmu yang menggenggam erat tangan kirimu saat kamu menutup mata. Vee, seandainya matamu terbuka untukku, kamu pasti tau bagai mana sesungguhnya dalam cintaku untukmu.
            Dede, menarik tangan Vee dan segera menggenggam tangan kiri Vee.
“Apa yang kamu rasakan sekarang Vee?”
“Hay! Genggaman ini terasa hangat Dede. Bukan Rai. Siapa yang menggenggam tanganku sekarang? Mengapa aku tidak dapat melihatnya? Genggaman tangan yang kuat. Aku mencintai orang yang menggenggam tanganku ini. Ini seperti mimpiku saat itu!”
“Itu karena kau menutup matamu. Sekarang, bukalah matamu, maka kamu akan melihat dunia nyata dan benar-benar melihat sela-sela jari tangamu yang hilang. Bukan hanya merasakan genggaman tangan, tapi juga melihat” perlahan Vee membuka matanya dan melihat siapa yang menggenggam tangan Vee.
“Dede? Kamu yang menggenggamnya?”
“Ya, aku. Vee, cepat lihat mataku. Aku disini bisa membantumu melupakan kejadian lama itu. Aku disini bisa membuatku belajar dan mengerti tentang cinta yang baru. Aku tulus mencintaimu Vee. Lupakan kenanganmu. Percayalah, Rai sudah tenang di sana. Dan Rai akan bahagia jika ia melihat sebuah kenyataan bahwa ada seorang yang bisa menjagamu disini. Dan orang itu adalah aku.”
Suasana tenang. Pantai sanur saat itu sangat indah. Salah satu gazebo di batu karang menjadi saksi. Dan Vee memeluk manja tubuh Dede yang juga membalas pelukan hangat Vee.
“Dede, bantu aku melupakannya, aku bisa merasakan kehangatan yang dalam dari cintamu.”
“Dengan senang hati, Vee. Beri aku kesempatan untuk menjagamu.”
“Jangan tinggalakan aku.”
            Vee telah mengetahui bahwa sela-sela jari tangannya yang hilang adalah tangan kirinya yang digenggam oleh tangan Vee yang menutup mata. Lalu saat membuka mata, ada kenyataan bahwa Dedelah yang menggenggam tangan Vee. Cinta itu terlalu abstrak. Bisa dirasakan saat menutup mata, tapi tidak bisa dilihat saat membuka mata. Cinta itu gamparan keras saat dia pergi, tapi begitu indah saat jatuh tepat di cinta yang sesungguhnya.

            Dede dan Vee hingga sekarang masih tetap bersama. Walaupun terkadang Dede takut akan Vee yang selalu saja mengenang-ngenang sosok Rai. Tetapi di sinilah peran seorang Dede dapat dimulai. Membantu Vee untuk melupakan sosok Rai yang sudah tenang di sana dengan kesabaran dan cinta yang Dede persembahkan untuk Vee.

2 komentar:

  1. belum full baca, tp kayaknya keren jadi naskah pentas. :)

    BalasHapus
  2. Ghé thăm cửa hàng két sắt chính hãng tại địa chỉ 189 Nguyễn Trãi Thanh Xuân. Két sắt Phát Tài chuyên cung cấp két sắt uy tín bán két sắt

    BalasHapus

bagaimana?